Jumat, 22 November 2019

Mobil ini pemberian dari pater General OCD untuk kepentingan Ordo dan paroki

Tahukah anda,
Siapa itu Kobus Watu..?



Komsossanjosbajawa - Setelah pemekaran paroki MBC pada 1980-an lalu, kedua imam OCD, Pater John Britto dan Pater Thomas Kallor mulai berpikir untuk melalui langkah awal dalam menghidupi paroki baru dibawah naungan perlindungan St. Yosef ini merupakan sesuatu yang tidak gampang. Atas berkat Tuhan, tanggal 03 Februari 1984 kedua imam ini memasuki rumah baru paroki St. Yosef Bajawa. Hari demi hari, tibalah waktunya peletakan batu pertama bagi biara Imam OCD. Dua hari sebelum peletakan batu pertama pembangunan biara OCD Bogenga, tepatnya tanggal 21 Desember 1984, sebuah Jip Hardtop Toyota warna biru tua, dengan plat nomor EB 1001 F tiba di Bajawa. Mobil ini pemberian dari pater General OCD untuk kepentingan Ordo dan paroki.
Disaat itu, pater John meminta untuk dicarikan seorang sopir dengan kriteria setia, punya hati untuk merawat dan rela dalam karya misi. Dan dari beberapa masukan, munculah nama om Kobus Watu.
Bapak Kobus ini sebelumnya adalah sopir susteran FMM Bajawa. Dan lewat pater John sendiri langsung menemui pimpinan FMM untuk meminta izin supaya om Kobus diperbantukan di biara OCD. Dengan kerelaan hati, suster pun mengizinkan permohonan pater John untuk mengabdi di biara OCD Bogenga. Om Kobus membuktikan dirinya selalu setia setiap saat, kapan dan dimana atau kemanapun, jauh atau dekat, beliau senantisa siap melayani kepentingan karmel OCD.  Kedua imam, Pater John dan Thom tak pernah mengeluh tentang om Kobus selama pengabdiannya. Ia berkarya hingga tutup usia pada tanggal 15 Oktober 2006.
(***red/ komsossanjosbajawa).
Sumber : buku melacak jejak karmel 25 tahun OCD Indonesia)

Sabtu, 02 November 2019

hari yang senantiasa dirayakan setiap tahun dalam mengenang arwah orang yang telah meninggal


EKARISTI ADALAH BERKAT
BAGI MEREKA YANG ADA DI API PENYUCIAN

Suasana Pater Remi bersama Pater Ubaldus sedang melayani perayaan ekaristi.
foto by : komsossanjos 

KOMSOSSANJOSNEWS_ Sabtu, 02 Nopember 2019, menjadi hari yang senantiasa dirayakan setiap tahun dalam mengenang arwah orang yang telah meninggal dan secara khusus mereka semuanya didoakan oleh umat di seluruh dunia demi melapangkan jalannya menuju Bapa di Surga. Hal ini juga dilaksanakan umat se-paroki St. Yosef Bajawa dalam mendoakan arwa yang telah meninggal dalam suatu upacara ekaristi bertempat di tempat pemakaman umum (TPU) Wolobaja. Misa dimulai pada pukul 14.00 (sore) waktu setempat dengan dihadiri 200-an umat yang tergabung dari beberapa paroki sekitar kota Bajawa. Perayaan dipimpin langsung oleh pastor paroki St. Yosef Bajawa, RP. Remigius Todang, OCD bersama RP. Ubaldus, OCD. Hadir bersama Fr. Kristo, OCD, para suster dari FMM dan Alma.


suasana bapak dan ibu umat yang hadir bersama dalam perayaan ekaristi.
foto by : komsossanjos

Cuaca sedikit ekstrim tak menghambat kepedulian umat datang ke lokasi pemakaman umum walaupun harus menempuh jarak yang cukup jauh hampir 10-an kilometer. Bahkan ada umat yang sudah datang ke lokasi 2 jam sebelum perayaan ekaristi berlangsung.
Dalam khotbanya, Pater Remi menyampaikan bahwa cuaca mendung bahkan hingga hujan yang turun disaat perayaan ekaristi tidak mematahkan semangat dan niat yang tulus bapak dan ibu umat untuk hadir bersama mendoakan sanak saudaranya yang telah meninggal. Hujan yang turun merupakan berkat bagi kita semua, baik manusia dan makhluk hidup yang ada di bumi karena sudah sekian lama mengalami kekeringan berkepanjangan yang mengakibatkan polusi dan gugurnya tanaman. Begitupula dengan momen hari ini, dirayakan upacara ekaristi terkhusus bagi semua arwah yang telah mendahului kita, perayaan ekaristi ini merupakan berkat bagi mereka. Kita semua hadir dan bersama mendoakan mereka demi melapangkan jalannya menuju ke surga. Kita wajib berdoa bagi mereka, karena hanya dengan cara inilah mereka dapat tertolong dari api penyucian, tegas Pater Remi.

suasana pater sedang memberkati makam yang ada di TPU.
foot by : komsossanjos

Perayaan ekaristi berlangsung hikmat dan damai. Tak lupa pula paduan suara dari Teresa Avila yang melantunkan suara-suara yang merdu mengiringi perayaan misa hingga usai.
Perayaan berlangsung selama kurang lebih 1 jam 30 menit, lalu dilanjutkan dengan pemberkatan makam yang ada di lokasi tersebut. Banyak juga umat yang berdatangan setelah perayaan ekaristi. Mereka datang untuk mendoakan keluarganya yang telah meninggal. (**red/komsossanjosbajawa)

KOMPOSISI DPP PERIODE 2021 - 2026

 DAFTAR KEPENGURUSAN DPP ST. YOSEP BAJAWA PERIODE 2021 - 2026 Hari, Minggu 19 Desember 2021, pukul 10.00 (witeng) bertempat di Gereja Paroki...