Minggu, 19 Desember 2021

NYATA, TULUS, CERDAS DAN BERSAMA

 KOMSOSSANJOSNEWS_Minggu, 19 Desember 2021, sekitar pukul 10.00 witeng, bertempat di Gereja Paroki St. Yosef Bajawa, telah berlangsung upacara pelantikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) St. Yosef Bajawa yang dikukuhkan langsung oleh Vikep Bajawa, RD. Yoseph Daslan Moang Kabu dan didampingi pastor paroki St. Yosef Bajawa, RP. Remigius Todang, OCD, kedua pastor rekan, RP. Barnabas Kara, OCD serta RP. Wilfried W. Nono, OCD.  Ke 77 anggota pengurus paroki ini telah mengucapkan janji setianya melalui upacara pengambilan sumpah dalam perayaan ekatristi dan akan mengembankan tugas serta tanggungjawabnya sebagai DPP periode 2021 hingga 2026. 

foto by : komsossanjosbajawa,
pose bersama DPP periode 2021-2026


Dengan pedoman kerja nyata, kerja tulus, kerja cerdas dan kerja bersama, diharapkan Fungsionaris Pastoral mampu bekerja dan menjadi pelayan bagi sesama terkhusus umat. Menurut Romo Vikep Bajawa, mereka ini adalah orang-orang yang siap untuk memberi dan mengorbankan diri untuk siap menjadi pasukan berani mati dalam karya pastoral di Paroki. Kita belajar dari spiritualitas Maria dan Yosef, menjadi fungsionaris pastoral yang bekerja secara nyata. 1 sosok yang bersama jutaan manusia dalam masyarakat yang sedang menantikan kedatangan Tuhan adalah Maria. Maria  menantikan kelahiran Sang Sabda itulah, Maria pergi mengunjungi Elisabet saudaranya. Di  situ Ia masuk kerumah seraya memberi salam kepada Elisabet.

Maria berjalan sendirian, penuh tekad dan penuh perjuangan serta pengorbanan demi misi yang dibawa Maria. Maria yang sementara mengandung nekad mendaki ke pegunungan. Maria tipe petarung. Maria berangkat setelah menerima panggilan Tuhan, Maria terpilih untuk berpartisipasi dalam karya keselamatan. Namun bukan karena kebahagiaan diri tetapi karena keuntungan yang akan dialami orang lain oleh dunia lantaran ia menerima tugas panggilan setelah mengatakan persediaan nya untuk menjadi Ibu Tuhan juru selamat adalah bukti pemberian dan persembahan diri Maria untuk menggolkan rencana Tuhan bagi keselamatan manusia.

Maria dalam kesederhanaannya membuat langkah luar biasa ia kembali ke asalnya, kembali ke keluarga, kembali ke saudari. Ingat saudarinya ibarat Maria pergi untuk perkuat dan perteguh persaudaraan. Justru dalam kebersamaan dan persaudaraan itulah Allah sungguh hadir nyata dalam diri Yesus yang dikandung. Seluruh isi rumah jadi bergembira oleh kegembiraan yang dibawa Maria calon ibu Yesus itu. Benar kata orang kegembiraan bila dibagi-bagikan maka kebahagiaan itu akan bertambah besar sedangkan duka dan kesedihan bila dibagi-bagikan akan menjadi berkurang.

Adventus adalah suasana sukacita yang dialami oleh orang-orang yang sedang menantikan seperti Daud yang menari-nari di depan tabut perjanjian demikian si kecil Yohanes melonjak kegirangan putar kekiri putar kekanan menyambut kedatangan Mesias yang masih dalam kandungan. Ibu Maria mengandung Yesus karena Roh Kudus Sehingga dalam roh itu selalu terpancar sukacita. Kehadiran itu selalu memberikan sukacita pada orang yang dijumpainya.

Misi ketiga, Maria mewartakan karya dan kebesaran Tuhan. Kedatangan, kehadiran dan keberadaan Maria ternyata mendapat sambutan istimewa. Maria diterima dengan pujian dari Elizabeth, diberkatilah Engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Dengan kata pujian ini mempertegas status Maria sebagai wanita yang terberkati dan satu-satunya yang terpilih dari sekian banyak wanita di Israel yang juga berlomba-lomba dan punya Ambisi untuk jadi ibu juru selamat.

foto by : komsossanjosbajawa,
pnyerahan salib oleh Romo Vikep Bajawa RD. Daslan
kepada Bapak Frans Woga sebagai utusan DPP periode 2021-2026


Saudara-saudariku, umat Tuhan, dalam sukacita di rumah Elizabeth, kita keluarga besar hari ini menutup tahun St. Yosep, yang pada tanggal 8 Desember 2020 Paus Fransiskus mencanangkan tahun khusus pada Yosep suami Maria dan Bapa piara dari Yesus. Memberikan makna khusus untuk direnungkan dan mendalami kepribadian seseorang St. Yosep. Dan tanggal 8 Desember 2021 Paus Fransiskus telah menutup dengan resmi dan kita umat Paroki yang berlindung pada Santo Yosef resmi menutup seluruh kegiatan iman dan rohani spiritual dalam kaitan dengan Santo Yoseph tanpa bermaksud untuk menyampaikan Sayonara kepada Santo Yoseph dan menarik di hari ini, namun kita kemas dengan pelantikan para pengurus pastoral, anggota DPP dengan sekelompok orang dari umat Allah yang terpanggil untuk terlibat dalam karya mereka dan  bersedia untuk membantu Pastor Paroki.

Maria bersedia jadi ibu Tuhan karena ia melihat ada keuntungan yang akan dialami oleh manusia lain. Dengan jawabannya Maria mau menjadi manusia bagi orang lain yang mengorbankan dirinya untuk kepentingan manusia lain dan demi kebaikan bersama. Menjadi pengurus pastoral kalian tidak mendapatkan keuntungan, malah mendapat kerugian, tenaga yang terkuras harus membaginya untuk gereja dan kalian kerja tanpa dibayar, cuma jaminan rohani semoga upahmu besar di surga. Menjadi anggota tidak dapat keuntungan apa-apa, tidak berikan jabatan apapun, tidak naik pangkat, malah kalian dapat salib sebagai bukti siap berkorban.

Melalui peran dan tanggung jawab DPP, melihat keuntungan bukan diterima oleh pribadi tetapi oleh umat. Keuntungan diterima oleh karena kesediaan melayani, setia dalam tugas yang memberikan sukacita bagi umat, kehadiran kalian harus memberikan sukacita dan kegembiraan bagi umat, harus jadi berkat bagi umat.

Spiritualitas Santo Yosep, di mana tatkala Maria mengunjungi Elisabet, bukankah seharusnya ia mendampingi Maria yang lagi mengandung dan menempuh perjalanan jauh. Hal ini memperjelas siapa sosok atau jati diri Yosep bapak piara dari Yesus itu. Dia adalah sosok yang misterius, sosok yang diam tidak banyak kata, tidak banyak omong, tidak banyak konsep, tetapi ia kerja. Mencintai pekerjaannya dengan setia, dia adalah tokoh kerja dalam senyap bukan dalam viral, dalam heboh-heboh dan dalam Gebyar.

Menjadi anggota DPP bukan jabatan tetapi pelayanan. Kerja konkrit sebagai bentuk tanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan. Melalui kerja-kerja itulah kita akan memuliakan Tuhan, bukan untuk memuliakan diri sendiri.

Ini benar kalau dikatakan, kerja buat Tuhan selalu manise. Kata Romo Daslan.

Acara berlangsung hikmat hingga usai, dan dianjutkan dengan ramah tamah sederhana di aula Teresa Avila paroki bersama Romo Vikep Bajawa, Pastor Paroki St. Yosef Bajawa, Pastor rekan dan semua pengurus DPP yang baru dilantik.

Red (komsossanjosbajawa***)

Sabtu, 18 Desember 2021

MANAJEMEN PAROKI - Sebuah renungan dan pemikiran



Kitab Hukum Kanonik maupun dokumen Konsili Vatikan II terutama dalam LG menyatakan bahwa Gereja sebagai persekutuan (communio) umat beriman, yang telah terbaptis dan diinkorporasikan dengan Kristus, mengambil bagian dalam tritugas Krisus di dunia sebagai Imam, Nabi dan Raja. Mereka dipanggil dan diutus oleh Allah melalui Gereja di tengah dunia. Paroki sebagai “ibu Gereja”, adalah sebuah persekutuan (communio) umat beriman kristiani yang terorganisir secara hirarkis. Sebagai persekutuan yang terorganisir, peran Pastor Paroki menjadi penting, karena dialah Manajer sekaligus Leader bagi umat beriman di Parokinya. Oleh karena itu, Paroki sebagai Gereja Umat Allah yang sedang berziarah (bdk. LG, bagian kedua), memiliki dimensi illahi dan sekaligus manusiawi dapat diatur dan dilaksanakan secara profesional dengan ilmu manajemen. Karena ilmu manajemen dapat membantu bagaimana mengelola dan memimpin Paroki sebagai sebuah institusi ilahi yang terorganisir secara baik. 

Kepemimpinan dan Manajemen Paroki. 

Kepemimpinan adalah seni untuk memberdayakan, merupakan seni yang tertinggi. Kepemimpinan berbeda dengan manajemen, meskipun bisa dilakukan oleh orang yang sama. Pastor Paroki adalah pemimpin dan sekaligus manajer dari insitusi yang terorganisir yang disebut dengan Paroki (bdk. Kan 519). Maka Pastor Paroki adalah seorang yang berperan sebagai manajemen leader. Pastor Paroki bertindak sebagai manajer yang melakukan hal-hal pastoral dengan benar. Sedangkan sebagai pemimpin dia melakukan hal-hal yang benar. Sebagai pemimpin, Pastor Paroki berurusan dengan upaya untuk menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh zaman. Oleh karena itu, Pastor Paroki harus melaksanakan pola kebijakan manajerial paroki guna menghadapi kompleksitas. Pastor Paroki harus memiliki fokus karya pastoral sesuai dengan visi dan misi parokinya dan mengontrol desain karya pastoral tersebut. Contoh: sekolah adalah sebuah institusi untuk mendidik anak-anak menjadi pandai tetapi jika kita mendapat pemimpin dalam hal ini guru yang buruk maka kita akan mendapatkan pendidikan yang buruk pula. 

Seorang pemimpin adalah arsitek dan pencipta sekaligus pengelola. Kepemimpinan berfokuskan pada penciptaan visi bersama sedangkan manajemen adalah desain pekeijaan dan berurusan dengan fungsi perencanaan sampai pengawasan. Sebagai seorang pemimpin Pastor Paroki harus mengusahakan agar umat ber-iman atau dewan pastoral paroki atau ketua wilayah-lingkungan, memiliki keinginan untuk melakukan apa yang harus dilakukan sesuai dengan fungsi dan jabatan mereka masing-masing. Sedangkan sebagai manajer, Pastor Paroki mengusahakan agar umat beriman mampu terlibat aktif dalam aktivitas yang dilaksanakan baik itu paroki dan lingkungan. Sebagai manajer Pastor Paroki memberi komando dan perintah melalui kepemimpinan yang komunikatif. Kepemimpinan pastor Paroki hendaknya membebaskan dan memberdayakan sedangkan sebagai manajer Pastor Paroki bertugas mengawasi, mengontrol apakah umat beriman melaksanakan kegiatan sesuai dengan proggram kerja, dan visi serta misi Paroki.

 

Manajemen Paroki berdasarkan Teori Louis Allen

Dalam teori manajemen profesional menurut Louis Allen ada 4 langkah pokok yang perlu mendapat perhatian: Planning, Organizing, Leading, Controlling. Dalam mengelola Paroki sebagai institusi rohani sebuah communio umat beriman kristiani yang terorganisir, teori Louis Allen kiranya dapat dipergunakan. Empat langkah ini merupakan management work classification dari Louis Allen yang dapat diterapkan dalam manajemen Paroki

pertamaPlanning : karya pastoral Paroki harus memiliki perencanaan (planning). Planning adalah sebuah perencanaan untuk menjawab (jalan keluar) atas masalah-masalah yang terdapat dalam Paroki baik internal maupun eksternal. Perencanaan itu meliputi perencanaan strategi (strategic planning) dan perencanaan kerja (work planning). Paroki yang baik memiliki perencanaan strategi yang jelas misalnya selama 3-5 tahun. Perencanaan kerja itu dirumuskan dapat melalui rapat kerja guna menjawab masalah-masalah (kebutuhan-kebutuhan Pastoral) umat beriman di Paroki.

Pastoral Planning menjadi sebuah perencanaan pastoral yang matang dan akurat jika telah menjawab masalah (kebutuhan dasar) umat beriman di Paroki. Maka sebelum membuat planning hendaknya diadakan penelitian (an. alisis sosial)untukmengetahui akar masalah yang dihadapi umat beriman baik internal paroki maupun eksternalnya dan hal ini merupakan tugas para umat yang mengemban tugas bidang penelitian dan pengembangan atau biasa disebut LitBang. Langkah ini merupakan profesionalitas karya pastoral yang berbasis pada data, bukan asumsi. Profesionalitas karya ‘pastoral itu ditentukan oleh data dan pengolahannya yang akurat. Karena itu, sudah saatnya Pastor Paroki bekerja secara profesional bersama bidang penelitian dan pengembangan dengan menggunakan ilmu bantu seperti manajemen.

Kedua Organizing : setelah melalui langkah planning (strategic planning dan work planning) dalam karya pastoral paroki, langkah lebih lanjut adalah mengorganisir dengan membentuk tim kerja sehingga perencanaan dapat dikerjakan se-cara efektif dan efisien. Dalam tim pelaksana dari perencanaan karya pastoral itu sebaiknya dilibatkan semua orang yang berkepentingan dalam Paroki seperti Dewan Pastoral Paroki, Ketua Wilayah dan Ketua Lingkungan, para tokoh umat, ketua organisasi kategorial, dan ketua ormas Katolik dan lainnya. Maksudnya adalah agar semua pihak yang berkepentingan (stakeholder paroki) merasa memiliki kegiatan pastoral itu, merasa bertanggungjawab atas perencanaan yang telah diputuskan bersama.

Ketiga Leading : langkah ketiga dalam ma-najemen pastoral yakni leading. Leading merupakan langkah karya pastoral dengan memberikan petunjuk, motivasi dan inspirasi yang dilakukan oleh Pastor Paroki kepada umat beriman (tim karya pastoral). Leading adalah tahapan penting, karena di dalamnya terdapat fungsi animasi, motivasi, dan pengambilan keputusan atas kegiatan pastoral yang sedang dilakukan. Pastor Paroki hendaknya terlibat aktif dalam langkah ini, agar umat beriman dapat bekerja secara efektif melaksanakan program pastoral, termotivasi untuk mengerjakan hal-hal benar dan melakukannya dengan benar.

Keempat Controlling : langkah terakhir yang juga penting dalam manajemen pastoral adalah controlling. Controlling merupakan tugas pengawasan dari seorang leader, menaksir dan mengatur kerja agar pencapaian tujuan kerja dapat berkembang dan tercapai. Dalam fungsi pengawasan ini terdapat indikator-indikator yang dapat diukur, apakah pelaksanaan karya pastoral kita sudah tercapai atau belum, apa kendalanya dan bagaimana progress reportnya. Maka di sini diperlukan juga evaluasi sebagai isi pelaksanaan fungsi controlling.

 

Bekerja secara profesional

Menjadi Pastor Paroki yang baik dan bekerja secara profesional itulah mimpi yang harus menjadi kenyataan. Pastor Paroki yang bekerja amatiran akan tidak menghasilkan karya yang optimal. Banyak umat merindukan seorang Pastor Paroki sebagai Imam gembala yang baik, pemimpin dan manajer komunitas umat beriman, mengutamakan pelayanan dan bekerja secara profesional. Semuanya itu adalah tuntutan bukan hanya dari umat beriman tetapi juga tuntutan hukum kanonik (bdk. kann 519; 521), dan yang lebih penting juga adalah kerjasama dan jalinan komunikasi yang baik antar Komunitas Pastoran dalam hal ini para pastor paroki dengan para umat yang terlibat dalam mengelola paroki. Semoga cita-cita untuk menjadikan umat semakin cerdas, tangguh dan misioner akan dapat terwujud. Terima Kasih. *-

 

----------------------------------------------------------------------

Dikutib dari :

https://news.unika.ac.id/2016/03/manajemen-paroki-sebuah-renungan-dan-pemikiran/

Ign. Dadut Setiadi

Penulis : Pengajar Manajemen pada prodi Komunikasi

Unika Soegijapranata Semarang,

dan Sekretaris Dewan Paroki Bongsari Semarang


Rabu, 17 November 2021

ADVEN DAN MAKNANYA



Komsossanjos News
– Begitu pentingnya peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, sehingga Gereja mempersiapkan umatnya untuk memperingatinya; dan masa persiapan ini dikenal dengan masa Adven.

Kata “adven” sendiri berasal dari kata “adventus” dari bahasa Latin, yang artinya “kedatangan”. Masa Adven yang kita kenal saat ini sebenarnya telah melalui perkembangan yang cukup panjang. Pada tahun 590, sinode di Macon, Gaul, menetapkan masa pertobatan dan persiapan kedatangan Kristus.

Kita juga menemukan bukti dari homili Minggu ke-2 masa Adven dari St. Gregorius Agung (Masa kepausan 590-604). Dari Gelasian Sacramentary, kita dapat melihat adanya 5 minggu masa Adven, yang kemudian diubah menjadi 4 minggu oleh Paus Gregorius VII (1073-1085). Sampai sekarang, masa Adven ini dimulai dari hari Minggu terdekat dengan tanggal 30 November (hari raya St. Andreas) selama 4 minggu ke depan sampai kepada hari Natal pada tanggal 25 Desember.

Masa Adven ini berkaitan dengan permenungan akan kedatangan Kristus. Kristus memang telah datang ke dunia, Ia akan datang kembali di akhir zaman; namun Ia tidak pernah meninggalkan Gereja-Nya dan selalu hadir di tengah- tengah umat-Nya.

 

Maka dikatakan bahwa peringatan Adven merupakan perayaan akan tiga hal: peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, kehadiran-Nya di tengah Gereja, dan penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman. Maka kata “Adven” harus dimaknai dengan arti yang penuh, yaitu: dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang.

Ini adalah dasar dari pengertian tiga macam kedatangan Kristus yang dipahami Gereja Katolik. Pemahaman ini menjiwai persiapan rohani umat; dan hal ini tercermin dalam perayaan liturgi dalam Gereja Katolik.

Sebab, di antara kedatangan-Nya yang pertama di Betlehem dan kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman, Kristus tetap datang dan hadir di tengah umat-Nya. Hanya saja, masa Adven menjadi istimewa karena secara khusus Gereja mempersiapkan diri untuk memperingati peristiwa besar penjelmaan Tuhan, menjelang peringatan hari kelahiran-Nya di dunia.

 

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 524) menuliskan:

KGK, 524 Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua (Bdk. Why 22:17.). Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: “Ia harus makin besar dan aku harus makin kecil” (Yoh 3:30).

Pada masa Adven, umat Katolik sering melakukan ulah kesalehan yang baik, yang berakar selama berabad-abad. Ulah kesalehan ini bertujuan untuk membantu mempersiapkan umat dalam menyambut kedatangan Sang Mesias.[1] Semua ulah kesalehan ini mengingatkan umat akan Sang Mesias yang sebelumnya telah dinubuatkan melalui perantaraan para nabi dalam Perjanjian Lama.

Ulah kesalehan ini juga mengingatkan umat Allah akan Kristus yang lahir dari Perawan Maria dengan begitu banyak kesulitan, yang akhirnya terlahir, namun terlahir di kandang, di tempat yang kurang layak.

 

Mari sekarang kita membahas persiapan rohani yang terkait dengan masa Adven.

 

1. Persiapan spiritual

Karena masa Adven adalah masa penantian yang harus diisi dengan pertobatan, sehingga kita mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan Kristus, maka sudah seharusnya umat Allah mempersiapkan diri secara spiritual. Persiapan yang terbaik adalah dengan lebih sering menerima Sakramen Ekaristi dan juga menerima Sakramen Tobat.

Sakramen Ekaristi menyadarkan kita akan kasih Allah yang memberikan Putera-Nya untuk bersatu dengan kita, yang dimulai dengan peristiwa Inkarnasi. Sakramen Tobat menyadarkan kita bahwa kita sebenarnya tidak layak menyambut Kristus karena dosa-dosa kita, namun Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari belenggu dosa.

Masa Adven adalah waktu yang tepat untuk terus bertekun dalam doa-doa pribadi dan membaca Kitab Suci. Sungguh baik kalau kita dapat mengikuti bacaan Kitab Suci mengikuti kalender Gereja, karena bacaan-bacaan telah disusun sedemikian rupa untuk mempersiapkan kita menyambut Sang Mesias.

Dalam masa Adven ini, ada sebagian umat yang juga menjalankan Novena Maria dikandung Tanpa Noda, Novena Natal dan Novena Kanak- kanak Yesus. Karena Gereja memperingati Maria dikandung Tanpa Noda (Immaculate Conception) pada tanggal 9 Desember, maka penghormatan kepada Bunda Maria, yang melahirkan Kristus juga dipandang sebagai devosi yang baik. Jika devosi ini dilaksanakan, maka sebaiknya menonjolkan teks-teks profetis, mulai dari Kej 3:15 dan berakhir pada kabar gembira dari malaikat Gabriel kepada Maria, yang penuh rahmat.[2]

 

2. Lingkaran Adven

Lingkaran Adven (Adven wreath) adalah satu lingkaran yang biasanya terbuat dari daun-daun segar, dengan empat lilin. Pada awal mulanya, sebelum kekristenan berkembang di Jerman, orang- orang telah menggunakan lingkaran daun, yang atasnya dipasang lilin untuk memberikan pengharapan bahwa musim dingin yang gelap akan lewat.

Di abad pertengahan, umat Kristen mengadaptasi kebiasaan ini dan memberikan makna yang baru pada lingkaran daun ini menjadi lingkaran Adven, untuk menantikan kedatangan Mesias, Sang Terang. Dikatakan bahwa penyalaan lilin yang bertambah minggu demi minggu sampai hari Natal merupakan permenungan akan tahapan karya keselamatan Allah sebelum kedatangan Kristus, yang adalah Sang Terang Dunia, yang akan menghapuskan kegelapan. (Ibid, 98))

Di dalam dokumen Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, tidak disebutkan warna lilin yang digunakan, sehingga umat dapat menggunakan lilin warna putih ataupun ungu. Karena masa Adven juga menjadi masa pertobatan, maka lilin dapat menggunakan warna ungu, yang menjadi simbol pertobatan.

Kemudian di Minggu ke-3, atau disebut minggu Gaudete atau minggu sukacita, dipasang lilin berwarna merah muda, yang menyatakan sukacita karena masa penantiaan akan telah berjalan setengah dan akan berakhir. Ada juga kebiasaan, yang meletakkan lilin putih di tengah, yang dinyalakan saat masa Adven selesai, yang menyatakan bahwa Kristus telah datang.

 

3. Antifon Tujuh ‘O’

Gereja Katolik mengharuskan para imam untuk berdoa liturgi harian (Liturgy of the hour atau Brevier). Walaupun doa ini diperuntukkan untuk para imam, namun kaum awam juga dianjurkan untuk mendoakannya. Dengan demikian, alangkah baik, kalau pada tanggal 17-23, juga diadakan ibadah sore bersama-sama di Gereja. Doa ini begitu indah dan dalam, sehingga seseorang dapat berdoa bersama dengan Gereja, doa berdasarkan Sabda Tuhan, dan doa bersama dengan para santa-santo yang dirayakan dalam liturgi Gereja.

Dalam masa Adven, tujuh hari sebelum Natal, yaitu tanggal 17-23 Desember, didoakan antifon sebagai berikut: O Sapientia (O Kebijaksanaan), O Adonai (O Tuhan), O Radix Jesse (O Pangkal Isai), O Clavis David (O Kunci Daud), O Oriens (O Bintang Fajar), O Rex Gentium (O Raja Segala Bangsa), O Emmanuel (O Imanuel / O Tuhan beserta kita). Kalau kita mengambil inisial dari doa tersebut mulai dari sebutan yang terakhir, maka akan membentuk kalimat  “ERO CRAS”, yang artinya Besok, Aku akan datang. Jadi, masa penantian dalam masa Adven senantiasa dibarengi dengan pengharapan akan kedatangan Sang Imanuel.

Antifon ini menggambarkan kerinduan akan kedatangan Sang Mesias. Dia yang merupakan Sabda Allah (O, Kebijaksanaan), yang akan mengajarkan manusia jalan Allah dengan cara Sang Sabda yang adalah Allah menjadi manusia (lih. Yoh 1:1). Bagaimana pemenuhan dari janji ini?

Hal ini dipenuhi secara bertahap, dengan menggambarkan beberapa karakter. Kalau sebelum-Nya Allah menyatakan hukum-hukumnya dalam dua loh batu, maka nanti Dia akan menyatakannya lewat sebuah Pribadi (O Adonai). Pribadi ini akan datang dari keturunan Daud (O Radix Jesse), yang menggambarkan Inkarnasi, di mana semua raja akan bertekuk lutut.

Dia mempunyai kekuasaan tak terbatas, yang digambarkan sebagai kunci Daud (O Clavis David), di mana Dia akan mengangkat manusia dari keterpurukan. Dia akan memberikan terang (O Oriens) kepada bangsa-bangsa. Terang ini menyinari semua orang, baik bangsa Yahudi maupun non-Yahudi, dan Dia akan menjadi raja segala bangsa (O Rex Gentium). Dia akan datang kepada umat manusia dan akan menyertai (O Emmanuel) umat manusia. Itulah harapan dari umat manusia akan kedatangan Sang Penyelamat. Dan dari rangkaian tujuh O Antifon, maka seolah-olah Yesus menjawab kerinduan ini, dengan mengatakan ERO CRAS atau ‘Besok, Aku akan datang’.

 

Mari kita melihat satu persatu dari antifon ini:

 

17 Desember (O Sapientia)

O Kebijaksanaan, yang mengalir dari Sabda yang Maha Tinggi, menggapai dari ujung ke ujung dengan penuh kuasa, dan dengan gembira memberikan segala sesuatu; datang dan ajarlah kami jalan kebijaksanaan.

“Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.” (Yes 11:2-3)

“Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.” (Yes 28:29)

 

18 Desember (O Adonai)

O Tuhan dan Penguasa dari bangsa Israel, yang telah menampakkan diri kepada Musa dari dalam semak terbakar, dan telah memberikan kepadanya hukum di Sinai: datang dan bebaskanlah kami dengan rengkuhan lengan-Mu.

“Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.” (Yes 11:4-5)

“Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita.” (Yes 33:22).

 

19 Desember (O Radix Jesse)

O Pangkal Isai, yang berdiri sebagai tanda bagi orang-orang, yang di hadapan-Nya, seluruh raja tidak dapat membuka mulut mereka; yang kepada-Nya seluruh bangsa harus berdoa: datang dan bebaskanlah kami, janganlah menunda lagi.

“Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.” (Yes 11:1)

 “Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” (Yes 11:10)

 

20 Desember (O Clavis David)

O Kunci Daud, dan tongkat dari bangsa Israel; Yang mana apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka: datang dan pimpinlah tawanan dari rumah penjara, dan dia yang duduk dalam kegelapan dan bayang-bayang maut.

“Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Yes 22:22)

“Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yes 9:7)

“untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.” (Yes 42:7)

 

21 Desember (O Oriens)

O Fajar Timur, Cahaya kemegahan abadi, dan matahari keadilan: Datang dan terangilah mereka yang duduk dalam kegelapan, dan bayang-bayang maut.

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes 9:1)

“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yes 60:1-2)

“Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.” (Mal 4:2)

 

22 Desember (O Rex Gentium)

O Raja Segala Bangsa, dan yang dirindukan, Batu penjuru yang membuat bangsa Yahudi dan non-Yahudi menjadi satu: datang dan selamatkanlah manusia, yang telah Engkau ciptakan dari debu tanah.

“Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” (Yes 9:6)

“Ia akan menjadi hakim antara bangsa-bangsa dan akan menjadi wasit bagi banyak suku bangsa; maka mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang.” (Yes 2:4)

“sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!” (Yes 28:16)

 

23 Desember (O Emmanuel)

O Imanuel, Raja dan Pemberi hukum kami, harapan dari semua bangsa dan keselamatan mereka: datang dan selamatkanlah kami, O Tuhan Allah kami.

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14)

Mempersiapkan Natal dengan sungguh dan menangkap arti Natal

Dari pemaparan di atas, maka sesungguhnya menjadi jelas, bahwa masa Adven adalah masa persiapan untuk menyambut kedatangan Kristus, yang harus diisi dengan pertobatan, yaitu membersihkan rumah hati kita, agar Kristus dapat lahir kembali di hati kita.

Kalau kita mempersiapkan diri dengan baik, maka kita akan mengalami Kristus yang hadir di dalam hati kita, sehingga kita juga akan mempunyai tujuan yang sama dengan Inkarnasi Kristus, yaitu untuk mengasihi dengan memberikan diri kepada sesama kita.

Dengan kata lain, Natal mengingatkan kita untuk dapat berbagi kasih dengan sesama. Mari, pada masa Adven ini, kita mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya. Datanglah ya Tuhan, lahirlah secara baru di dalam hatiku…..!

 

 

Sumber :

Katolisitas.org/Katoliknews

(https://katoliknews.com/2016/12/06/adven-dan-maknanya-dalam-ziarah-iman-orang-katolik/4408/)




KOMPOSISI DPP PERIODE 2021 - 2026

 DAFTAR KEPENGURUSAN DPP ST. YOSEP BAJAWA PERIODE 2021 - 2026 Hari, Minggu 19 Desember 2021, pukul 10.00 (witeng) bertempat di Gereja Paroki...